Rabu, 13 April 2011

Proyek DED Rp8,3 Miliar, Proyek Kajian Tidak Real


Proyek DED Rp8,3 Miliar, Proyek Kajian Tidak RealKlikM, Bekasi - Sensitifitas anggaran dan kepedulian pejabat Pemkot Bekasi sungguh menyayat hati. Saat kondisi keuangan Kota Bekasi karut marut, pejabat malah mengutamakan anggaran yang bukan prioritas dan menyentuh rakyat. Salah satunya anggaran untuk proyek-proyek kajian yang dinilai kurang efektif. Padahal Presiden SBY dalam tanggapan mengenai gedung DPR baru, secara tegas menginstruksikan pejabat pusat dan daerah untuk berhemat dan efisien dalam penggunaan anggaran.
Demikian disampaikan Roni Hermawan anggota Badan Anggaran DPRD Kota Bekasi. Ketua Komisi B ini mencontohkan beberapa mata anggran proyek kajian yang nilainya hampir mencapai Rp300-400 juta dalam satu mata anggaran. Bahkan ada beberpa kajian, seperti Detail Enggenering Desain (DED) dinas Bina Marga Dan Tata Air angkanya mencapai Rp8,3 miliar.
"Jumlah mata anggran untuk proyek kajian terlalu tinggi, mislanya DED untuk Dinas Bina Marga Pemkot mengucurkan dana sampai Rp8,3 miliar. Belum lagi kajian-kajian di dinas lain, yang rata-rata satu mata anggaran kajian mencapai Rp300-400 juta," ujar Roni Hermawan.
Lanjut politisi Demokrat ini, kajian yang dibuat setiap tahun terkadang tidak bermanfaat, karena kenyataannya dari beberapa kajian yang telah dilakukan dari tahun-ke tahun, jarang sekali hasilnya diimplementasikan. Bahkan ada beberapa kajian yang sifatnya tidak real. Proyek kajian juga menurutnya hanya sebatas proyek kertas, tanpa hasil.
"Dari tahun ke tahun tidak berubah, selalu saja ada proyek kajian. Tapi mana tidak pernah hasil kajian tersebut diimplementasikan. Bahkan saya melihat beberapa kajian seolah masih tidak real. Inikan pemborosan namanya. Saya lebih sependapat kalau menyebut proyek ini proyek kertas," tutur Roni Hermawan.
Ia juga mengatakan, seharusnya Pemkot Bekasi fokus pada skala prioritas terlebih dahulu, bukan justru menggunakan anggaran untuk sesuatu yang belum perlu.
"Fokus terhadap apa yang menjadi skala prioritas, bukannya menganggarkan biaya untuk sesuatu yang belum perlu. Pemborosan namanya," tutur Roni Hermawan.(van)
sumber : klikm.net

Tak Efektif, Jembatan Penyeberangan Ahmad Yani Dipindah


Tak Efektif, Jembatan Penyeberangan Ahmad Yani DipindahKlikM, Bekasi - Padatnya volume kendaraan serta kurang tertibnya pejalan kaki pada saat menyebrang di sepanjang perbatasan jalan antara Giant Mall dan Metro Politan Mall merupakan salah satu penyebab kemacetan arus lalu lintas di kawasan Jalan Ahmad Yani. Oleh karenanya perlu ada solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut.
Demikian dikemukakan Ketua Komisi B DPRD Kota Bekasi Roni Hermawan. Beberapa solusi akan diambil untuk mengatasi hal tersebut, antara lain disebutkan Roni Hermawan yakni dengan memindahkan jembatan penyeberangan, yang sejauh ini dinilai kurang efektif. Terbukti para pejalan kaki jarang memanfaatkan jembatan tersebut, mereka lebih memilih menerabas jalan secara langsung saat hendak menyeberang.
"Yang jadi biang macet selain karena volume kandaraan yang memang padat, ya pejalan kaki tidak pernah menyeberang menggunakan jembatan penyeberangan. Namun setelah kami pelajari ternyata tidak digunakannya jembatan penyeberangan dikarenakan letaknya kurang strategis serta jembatan terlalu curam. Oleh karenanya ada rencana bagi kami untuk memindahkannya," ujar Roni Hermawan, Jum'at (8/4).
Tak hanya memindahkan jembatan, ke depan pengemudi kendaraan dari arah tol barat akan dilarang menerabas langsung menuju pintu masuk Giant Mall, mereka nantinya terlebih dahulu harus belok ke kanan atau ke keri dan memutar arah.
"Nantinya mereka yang menggunakan mobil dari arah tol Barat tidak lagi bisa langung masuk ke Giant Mall, mereka harus belok ke kiri atau kanan dan memutar arah. Soal teknis pengaturannya, nanti Dinas Perhubungan akan berkerja sama dengan Kepolisian dalam pelaksanaannya," tutur politisi Demokrat ini.
Sementara saat ditanya soal besaran anggaran untuk pemindahan jalan. Roni akan berkomunikasi dengan pihak Giant Mall dan Metropolitan Mall untuk membantu biaya pemindahan jembatan penyeberangan tanpa harus dari APBD. Karena kedua mall terbesar di Kota bekasi tersebut sangat berkepentingan dengan kondisi tersebut.
"Akan kami komunikasikan dengan Giant dan Metropolitan Mall. Agar mereka mau mendanai pemindahan jembatan tersebut. Bagaimanapun ini juga kepentingan mereka, masa sihnggak mau membantu. Dan lagi kan nggak makan biaya banyak," pungkasnya. (van)
sumber : klikm.net

DPRD Kota Bekasi Dinilai Bobrok

DPRD Kota Bekasi Dinilai Bobrok
KlikM, Bekasi - Karut marutnya Kota Bekasi dinilai sebagai akibat lemahnya lembaga legislatif dalam menjalankan fungsi pengawasan danbudgeting. Terjadinya kekosongan SKPD dan lambannya APBD sebagai akibat dari kinerja DPRD Kota Bekasi yang dinilai tidak becus dalam menjalankan tugas dan perannya.
Hal tersebut mengemuka dalam konfrensi pers yang dihelat Front Pemuda Untuk Revolusioner Bekasi di Gedung Pemuda, Rabu (13/4) siang.
Beberapa indikasi yang menunjukan rusaknya lembaga legislatif antara lain terkatung-katungnya proses pembahasan APBD 2011, masuknya beberapa anggaran tidak prorakyat misalnya gedung Pemkot sepuluh lantai dengan alokasi sebesar Rp12,5 miliar. Padahal di sisi lain, masyarakat membutuhkan alokasi dana pendidikan serta kesehatan. Adanya keikutsertaan anggota dewan dalam kasus suap APBD 2010 Kota Bekasi, terbukti dengan munculnya nama-nama anggota dewan yang menjadi pelaku dalam rekonstruksi KPK.
Berdasarkan fakta yang mengemuka, menurut King Vidor, Koordinator Front Pemuda untuk Revolusioner Bekasi, pihaknya mengecam hal tersebut serta mengungkapkan mosi tidak percaya terhadap DPRD Kota Bekasi.
"Berdasarkan kenyataan yang ada, menilai DPRD Kota Bekasi sudah bobrok. Maka kami Front Pemuda untuk Revolusioner Bekasi mengecam hal tersebut dan menyatakan mosi tidak percaya kepada DPRD Kota Bekasi," ujar King Vidor.
Lanjut King Vidor, melalui Front Pemuda untuk Revolusioner Bekasi mendesak agar segera mengadili para pemimpin dewan di Kota Bekasi. Juga, mendesak unsur pimpinan dewan diganti karena tidak becus memimpin lembaga DPRD, meminta agar APBD 2011 ditinjau ulang serta meninjau pembangunan gedung pemkot sepuluh lantai dengan anggaran Rp12,5 miliar.
"Lembaga dewan yang sudah bobrok karena diisi oleh orang-orang yang tidak mampu menjalankan tugas," tutur King Vidor.
Usai jumpa pers Front Pemuda untuk Revolusioner menggelar aksi simpatik di tiga titik. Yakni depan Giant Bekasi, Perempatan Tol Bekasi Timur dan Stasiun Bekasi. Sedang Front Pemuda untuk Revolusioner Bekasi berisikan Pemuda Demokrat Indonesia Kota Bekasi, KAMMI, HMI, PMII, Jamper dan GMNI Bekasi.(van)
sumber : klikm.net

Perbedaan Hasil Jepret Kamera, canon, nikon, sony alpha

sedikit bercerita
ini kisah tentang KAMERA Canon, Nikon, Sony alpha seri 3xx

sebut saja si Mas noenk, awal dia memberi tahu saya bahwa daripada kamera nikon atau canon mending kamera Sony alpha selagi bagus buat pemula yang baru belajar motret dan juga dijamin bakal tidak menyesal haha, saya jadi bingung mau beli yang mana.
langsung aja deh..



diatas itu hasil jepret kamera Nikon D60 by Rangga Irzad.

selanjutnya hasil jepretan kamera canon D1000 by N.Winda Ardani



dan ini hasil akhir jepretan Sony alpha seri 3xx by Mas Noenk



ini hasil potretan mas noenk gak ada sama sekali diedit, sebenarnya semua yang saya upload fotonya ini gak ada yang diedit alias natural..
so, tentukan pilihan kalian...

Canon, Nikon, atau Sony alpha

semuanya tergantung sama kebutuhan kalian sih...

oia saya mau berbagi cerita lagi, silahkan dilihat blog yang satu ini dijamin ampuh inget dibaca yang bener yah : http://ienoenk.web.id

lensa Nikon AF-S 18-105mm VR


Lensa Nikon 18-105mm DX yang menjadi lensa kit dari DSLR Nikon D90 keluaran tahun 2008  ini merupakan lensa zoom Nikon kelas ekonomis yang populer karena harganya yang terjangkau, punya rentang fokal yang cukup panjang dan efektif, serta plus fitur VR. Hadirnya lensa ini secara tidak langsung menandakan kalau lensa 18-135mm non VR (kitnya Nikon D80) telah diskontinu, maka tak heran kalau lensa ini kini semakin banyak dicari oleh pemilik DSLR Nikon DX mulai dari D40 hingga D300. Apakah lensa seharga 4 juta (kurang sedikit) ini layak dipertimbangkan sebagai lensa andalan anda? Simak review yang kami buat  selengkapnya.

Pendahuluan

D40 + 18105Lensa Nikon 18-105mm f/3.5-5.6g VR ini menjadi lensa zoom Nikon DX terbaru yang lagi-lagioverlap dengan lensa consumer-grade Nikon lainnya (dalam hal rentang fokal), seperti 18-55mm (kitnya D40-D5000), 55-200mm, 18-70mm (kitnya D70), 18-135mm (kitnya D80) dan 18-200mm. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di jajaran lensa pro Nikon yang tidak ada overlap, mulai dari 14-24mm, 24-70mm, 70-200mm dan 200-400mm. Banyak pihak yang berharap Nikon akan membuat versi VR dari lensa 18-135mm yang sangat populer di masa lalu, namun ternyata inilah jawaban dari Nikon, lensa 18-105mm VR yang hadir di bulan Agustus 2008, sebagai lensa kit dari Nikon D90.
Beberapa fakta dari lensa 18-105mm diantaranya :
  • rentang fokal lensa yang mencukupi untuk fotografi sehari-hari (equiv. 28-157mm)
  • variable aperture dari f/3.5 hingga f/5.6 (maks) dan f/22 hingga f/38 (min)
  • sistem stabilizer VR
  • optik yang sudah dilengkapi elemen ED dan aspherical, plus SIC coating
  • diameter filter 67 mm
  • mounting dari bahan plastik
  • inner focus, tidak ada elemen di depan lensa yang berputar
  • format DX (tidak untuk DSLR full frame)
  • tanpa fitur kelas pro (distance scale, ring aperture dsb)
Tak bisa dipungkiri, lensa ini memang tergolong sebagai lensa serba-bisa (versatile lens) karena rentang fokalnya, sehingga praktis saat dipakai bepergian tanpa perlu membawa banyak lensa. Lensa ini juga sudah dianggap memenuhi syarat mendasar sebuah lensa modern karena sudah ada VR, pake motormicro untuk AF, ada ED lens dsb. Tapi bagaimana pun lensa 18-105VR ini tetaplah lensa kit yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian dari kita (terlepas harga jualnya yang lumayan mahal untuk ukuran lensa kit). Ada yang bilang kalau lensa ini adalah versi murah dari lensa 18-200VR, dengan harga setengahnya (dan rentang fokal yang juga setengahnya). Namun ada yang bilang juga kalau lensa ini adalah penyempurna lensa 18-135mm yang dilengkapi VR dan sudah meniadakan masalah purple fringing di lensa 18-135mm.
Bicara soal rentang fokal, khususnya di posisi tele, memang fokal lensa kit dari D90 ini punya keunggulan dibanding lensa kit lain yang umumnya berada di kisaran 55mm dan 70mm. Tapi apakah 105mm ini sudah mencukupi untuk kebutuhan tele atau tidak, tentu ini soal lain. Apalagi jika si empunya lensa tidak bermaksud untuk memiliki lensa tele tersendiri, tentu fokal 105mm itu (ekuiv. 157mm) perlu dipertimbangkan lagi apa sudah cukup panjang atau belum. Tapi bila kita merasa 105mm ini sudah cukup, maka lensa ini sudah bisa menjadi lensa utama khususnya untuk pemula. Tak heran meski 18-105VR ini sejatinya adalah lensa kitnya Nikon D90, namun banyak yang membeli lensa ini untuk dipakai di kamera lain mulai dari D40 hingga D300.

Selayang Pandang

Lensa 18-105VR sepintas tampak serupa dengan lensa 18-135mm dengan ukuran yang relatif kecil meski memiliki diameter filter 67mm. Bobot lensa inipun terasa pas, dalam arti tidak ringan (seperti 18-55mm) dan tidak berat juga (seperti 24-70mm) sehingga bila dipasang di kamera DSLR terasa balance. Dalam posisi wide 18mm, tidak ada bagian dari lensa yang menonjol, namun begitu lensa di zoom maka elemen lensa akan memanjang dan akan berada di posisi terpanjang berada pada posisi 105mm. Posisi ring fokus manual berada di sebelah dalam (kebalikan dari lensa kit 18-55mm atau 55-200mm) sehingga terhindar dari resiko terputar secara tidak sengaja (seperti yang terjadi di lensa  24-70mm). Di samping kiri ada dua tuas selektor yaitu tuas manual/auto fokus dan tuas on/off VR. Dalam urusan manual fokus, lensa ini unik karena pada tuas tertulis kode A – M (bukannya M/A – M seperti lensa Nikon yang lebih mahal) namun dalam penggunaan manual fokus kita bisa memutar ring fokus kapan saja tanpa harus menggeser tuas dari posisi A ke posisi M. Gerakan zoom lensa saat di putar terasa kokoh dan tidak ‘enteng’ seperti lensa kit 18-55mm. Lensa buatan Thailand ini memiliki mounting dari plastik sehingga perlu hati-hati saat membawa kamera, jangan menggenggam pada lensanya (supaya tidak patah).

Kinerja

Hanya ada dua hal yang perlu diketahui soal kinerja lensa ini, yaitu kecepatan motor fokus AF-S dan performa stabilizer VR. Kami tidak tahu jenis motor SWM di dalam lensa ini apakah tergolong motor kelas murah (seperti motor SWM di 18-55mm atau 55-200mm) ataukah yang kelas cepat (seperti motor SWM di 18-200mm atau 24-70mm). Anggaplah dengan harga jualnya yang terjangkau, motor AF-S di lensa ini masih memakai motor kelas murah; maka kami rasakan kecepatan penguncian fokus di lensa ini tergolong amat cepat, sekitar setengah detik dalam kondisi ideal. Kinerja mulai menurun saat dipakai dilow-light, atau bila kamera mencoba mengunci fokus pada objek foto yang kontrasnya kurang.
Soal stabilizer, sistem VR di lensa ini memang bukanlah sistem VR generasi II yang sanggup bekerja hingga 4 stop. Nikon meng-klaim VR disini hanya bisa 3 stop, meski kenyataannya tentu hasilnya bisa bervariasi. Terdengar suara halus dari dalam lensa saat VR aktif (tombol shutter ditekan setengah) dan efek stabilisasi bisa dirasakan melalui viewfinder optik. Soal hasil pengujian VR di lensa ini bisa dilihat di pengujian di bawah ini.

Kinerja lensa secara umum

Fokal lensa dan bukaan diafragma
Lensa 18-105mm ini punya rentang fokal yang cukup lebar (5,8 x zoom), dengan kemampuan mengambil area yang luas (wideangle) hingga medium tele. Lensa semacam ini tentu amat disukai oleh mereka yang membeli kamera DSLR untuk travelling, karena kemampuannya menjangkau wide hingga tele tadi. Pada posisi lensa 18mm, dengan adanya crop factor kamera Nikon DX maka akan menjadi 27mm dan pada posisi lensa 105 akan menjadi 157,5mm. Untuk mendapat gambaran seperti apa kemampuan rentang fokal ekstrim lensa ini, berikut adalah foto replika candi Borobudur yang diambil dari kejauhan.

18-105

Adapun untuk urusan bukaan diafragma, lensa 18-105mm ini memang tergolong lensa lambat dengan bukaan variabel dari f/3.5 hingga f/5.6. Bagi yang belum mengetahui, lensa zoom ekonomis memang tidak punya bukaan maksimal yang tetap pada seluruh panjang fokal, sebagai gantinya bukaan maksimum lensa akan semakin mengecil seiring perubahan posisi fokal lensa. Sebagai contoh, pada posisi 18mm bukaan maksimal lensa ini adalah f/3.5 namun begitu posisi lensa berubah ke 24mm maka bukaannya maksimalnya turun ke f/4. Yang membuat kami cukup terkejut adalah bahwa lensa ini sudah mencapai bukaan maksimum f/5.6 bahkan pada posisi fokal baru mencapai 70mm, sehingga di rentang 70 – 105mm bukaan maksimumnya sudah stabil di f/5.6. Jadi saran kami, bila anda perlu memasukkan cahaya sangat banyak (ingin bukaan diafragma sebesar mungkin) hindarilah memakai posisi fokal diatas 70mm.
Ketajaman
Sifat alami lensa pada umumnya akan memberi ketajaman maksimal di bukaan sekitar f/8 dan akan soft di bukaan maksimal dan minimal (akibat difraksi), demikian juga halnya dengan ketajaman yang diberikan oleh lensa ini. Karena dengan 15 elemen yang tersusun di dalam sebuah lensa ini, adalah wajar bila ketajaman juga akan berbeda pada tiap posisi fokal, dan lensa akan cenderung lebih soft pada posisi ekstrim di 18mm dan 105mm. Ketajaman juga tampak berkurang di bagian tepi dan ini merupakan konsekuensi memakai lensa DX, bukan suatu masalah bagi yang memakai lensa ini untuk memotret orang/wajah, namun mungkin akan jadi masalah bagi mereka yang memakai lensa ini untuk memotretlandscape. Dari hasil pengujian, lensa ini punya optik yang tergolong bagus karena mampu memberi ketajaman dan kontras yang stabil di sepanjang rentang fokal, dengan sedikit penurunan terjadi di posisi 105mm.
Kinerja VR
Kami ingin membuktikan efektivitas stabilizer VR pada lensa ini, dimana VR berfungsi untuk mengkompensasi getaran tangan saat memotret sehingga mencegah foto jadi blur. Sebagaimana yang kita tahu, kamera cenderung akan memberikan hasil foto yang blur akibat getaran tangan yang umumnya terjadi saat shutter terlalu lambat dan/atau fokal lensa terlalu panjang. Di contoh pengujian kali ini, kamimemakai speed 1/10 detik dan posisi fokal lensa 105mm, dimana kombinasi keduanya hampir pasti akan menghasilkan gambar yang blur tanpa VR. Ternyata dengan memakai VR, kami tetap bisa membuat hasil foto yang tajam meski speed yang dipakai itu 3 stop dibawah speed minimum secara teori 1/panjang fokal (fokal 105mm semestinya memakai speed 1/100 detik). Dari pengujian tadi, disimpulkan bahwa VR berfungsi dengan baik dan efektif mencegah foto blur akibat pemakaian shutter lambat dan/atau fokal tele. Sebgai catatan, VR bukan untuk mencegah blur akibat gerakan objek yang difoto, dia hanya mencegah blurakibat gerakan tangan si fotografer. VR juga tidak berdaya untuk speed terlampau rendah (dibawah 1/8 detik) untuk itu gunakan tripod.
18-105VR test
Cacat lensa
Secara fisika, cacat atau penyimpangan optik  memang terpaksa dialami setiap lensa, sebutlah misalnya distorsi, flare, vignetting dan chromatic abberation. Semakin mahal lensa, makin baik kemampuannya dalam meminimalisir cacat yang terjadi. Jadi saat memilih lensa ekonomis, tentu soal cacat lensa ini perlu dikompromikan. Perlu dicatat bahwa cacat lensa yang kami maksud bukanlah cacat dalam manufaktur seperti cacat fokus (front focus/back focus) atau penyimpangan warna/tone.
Lensa 18-105mm merupakan lensa zoom yang rentan terhadap distorsi. Di posisi 18mm, lensa mengalami cacat yang nyata dalam hal distorsi dimana garis jadi tampak melengkung keluar (barrel) dan ini membuat lensa ini tidak cocok untuk urusan foto arsitektur atau interior. Namun begitu kita memakai fokal diatas 18mm, lensa langsung berbalik mengalami distorsi kedalam (pincushion), padahal biasanyapincushion hanya terjadi di posisi tele maksimum. Biasanya untuk mengatasi kelengkungan ini foto harus diolah lagi memakai software komputer.
Saat lensa mendapat sorot matahari dari samping,  sinar matahari akan terpantul-pantul diantara susunan lensa dan menyebabkan flare. Pada lensa ini tampaknya flare dapat diatasi dengan baik sehingga tidak mudah muncul. Demikian juga dengan vignetting atau fall-off atau dark corner, suatu fenomena lensa yang cenderung lebih gelap di bagian pojok, tidak terlalu nampak pada hasil foto aktual. Lensa ini pun kami akui mampu mengatasi fenomena purple fringing atau chromatic abberation, suatu kondisi dimana muncul warna keunguan di bagian foto yang beda kontras amat tinggi. Lensa ekonomis umumnya tak bisa menghindari cacat ini karena sedikitnya pemakaian elemen lensa ED atau elemen aspherical. Kamera modern seperti D90 bisa otomatis menghilangkan cacat ini melalui prosesor di dalam kamera, sementara kamera lawas masih harus menerima hasil dari lensa yang terpasang apa adanya. Pada beberapa kasus lensa ini masih sedikit menampakkan purple fringing meski jauh lebih baik daripada lensa 18-135mm.
Makro
Salah satu hal yang ingin diketahui oleh calon pembeli lensa adalah kemampuan makronya. Lensa 18-105mm punya rasio reproduksi makro 1:5, dan minimum focus distance sejauh 45 cm. Tidak ada tuas selektor macro di lensa ini, menandakan memang lensa ini tidak ditujukan untuk keperluan fotografi makro. Namun untuk kebutuhan makro sekedarnya, lensa ini masih bisa diandalkan.
DSC_2950a
Tampak 100% crop dari sebuah micro SD card yang masih tampak tajam dan detil, diambil dari jarak sekitar 50 cm dari objek. Lumayan untuk ukuran lensa non makro.
Bokeh
Bagi anda yang penasaran ingin melihat seberapa baik lensa ini dalam membuat out of focus atau blurpada background (biasa disebut dengan bokeh), tampaknya kami akan membuat anda kecewa. Adalah hal yang wajar bila lensa ekonomis punya bokeh yang biasa saja, bahkan belum sanggup membuat latar yang benar-benar blur. Untuk bokeh sesungguhnya, tentu lensa fix apalagi yang bukaannya besar lebih cocok. Berikut contohbokeh yang dihasilkan lensa 18-105mm pada posisi 105mm dan pada bukaan maksimum f/5.6. Sebagai pembanding kami tampilkan hasil foto dari lensa Nikon fix khusus makro seharga hampir 10 juta rupiah, AF-S 105mm VR micro dengan bukaan f/2.8.
AFS 105 bokeh
Tentu saja dari perbandingan di atas tampak kalau kedua lensa memiliki bokeh yang jauh berbeda, meski digunakan pada fokal yang sama yaitu 105mm. Pada lensa 18-105mm samar-samar masih tampak bentuk latar yang berupa dedaunan, namun pada lensa 105mm micro, latar sudah sangat blur sehingga sulit ditebak kira-kira benda apa yang ada di belakangnya. Baik dalam hal bukaan diafragma (f/5.6 melawan f/2.8) ataupun dalam hal harga, kedua lensa yang diuji di atas jelas berbeda kelas, maka itu wajar bila hasilnya pun berbeda. Kemampuan bokeh lensa 18-105mm ternyata tak banyak berbeda dengan lensa kit lain semisal 18-55mm.

Kesimpulan

Banyak orang yang mencari sebuah lensa yang bisa dipakai untuk kebutuhan fotografi dasar sehari-hari, dengan ciri ukuran kecil, rentang fokal yang lebar (wide hingga tele), ada sistem VR, optiknya bagus dan tentu harganya terjangkau. Keuntungan bagi anda yang memakai DSLR Nikon adalah banyaknya pilihan lensa yang masuk dalam kriteria ini, seperti lensa kit D70 yang legendaris (18-70mm namun tanpa VR), 16-85mm VR hingga 18-200mm VR. Nah, lensa 18-105mm VR ini pun mampu menjadi salah satu pilihan yang menarik karena memenuhi semua kriteria yang kami tuliskan di atas.
Sebagaimana layaknya lensa walk-around pada umumnya, lensa ini juga bukanlah lensa high performanceyang dicari para profesional. Sebutlah karena material mountingnya yang terbuat dari plastik, bukaan diafragmanya yang tergolong lambat, tidak kompatibel dengan format FX / full frame, hingga cacat distorsinya yang tampak jelas membuat garis jadi melengkung. Selain masalah di atas, lensa ini merupakan lensa yang praktis dan bisa diandalkan untuk menghasilkan foto-foto yang indah, warna yang natural, kontras dan ketajaman yang tetap terjaga pada sepanjang rentang fokal.
Sebagai penutup, kesimpulan dan saran kami terhadap lensa 18-105mm VR ini adalah :
  • dalam banyak hal lensa ini sedikit lebih baik dari lensa kit pada umumnya (rentang fokal lebih lebar,  lebih mantap digenggam, ring manual fokus lebih presisi dan diameter filter lebih besar)
  • lensa ini cocok untuk anda yang mencari lensa travelling (dipakai jalan-jalan) yang ringkas dan ringan berkat rentang fokalnya yang ekuivalen dengan 27-157mm
  • lensa ini bisa dipilih bila anda tidak ingin memiliki lensa 18-200mm VR (entah karena mahal atau karena berat) meski tentu fokal 105mm hingga 200mm tak mungkin dijangkau oleh lensa ini
  • bila anda mau menambah dana untuk mencari lensa yang lebih ’serius’ daripada lensa ini, bisa pertimbangkan AF-S 16-85mm VR yang punya mount logam, meski secara kualitas optik keduanya hampir sama dan sama-sama bukan lensa cepat
  • bila mau menambah lensa tele sebagai pelengkap lensa ini, bisa coba memakai AF-S 70-300mm VR (meski nantinya jadi ada sedikit overlap range di 70-105mm)
  • lensa ini tidak cocok untuk anda yang sering memotret benda-benda dengan garis tegas karena distorsi lensa ini yang cukup parah
  • lensa ini cukup nyaman bila ingin mencoba manual fokus karena ring manual fokusnya cukup presisi
  • lensa ini kurang cocok untuk penggemar landscape murni yang perlu ketajaman di semua bidang foto
  • lensa ini kurang cocok untuk penggemar bokeh yang creamy, untuk itu gunakan lensa fix
  • lensa ini lumayan cocok untuk yang suka candid, jurnalistik atau sport karena motor AF-nya lumayan cepat, plus VR yang efektif hingga 3 stop
  • bagi pemilik D40 – D5000, bila anda ingin upgrade dari lensa kit 18-55mm ke lensa ini, lakukan hanya jika anda merasa fokal 55mm dirasa kurang cukup untuk kebutuhan tele (karena secara kualitas optik keduanya relatif sama)
  • bagi pemilik D90 yang sudah paket dengan lensa kit 18-105mm ini, bila anda ingin menjual lensa kit ini dan lalu membeli lensa lain, pertimbangan terbaik adalah lensa 18-200mm VR.
Inilah review lensa 18-105mm VR yang bisa kamibuat untuk anda pemakai DSLR Nikon, dengan harapan bisa memberi gambaran sebelum anda memutuskan untuk membeli. Untuk pertanyaan, koreksi dan diskusi seperti biasa bisa melalui forum yang ada.

Selasa, 12 April 2011

EFEK DARI EXPOSURE TIME / KECEPATAN RANA


1. Foto air terjun [kecepatan rana berbeda-beda sesuai keterangan gambar di pojok kanan bawah]
2. Foto jalan raya di malam hari [pengumpulan cahaya 30 detik]
3. Sebuah kincir mainan dipotret dengan 3 kecepatan rana yang berbeda
[kiri : menggunakan kecepatan rana yang sangat cepat]
[tengah : menggunakan kecepatan rana yang lebih lambat dibanding dengan yang kiri]
[kanan : menggunakan kecepatan rana yang lambat]
 4. Foto yang diambil dengan kecepatan rana yang lebih rendah membangkitkan rasa visual gerakan. [3 detik]


sumber : j4sharing.blogspot.com

BEBERAPA PENGATURAN KAMERA PADA PONSEL NOKIA S60V3


Bila anda yang biasanya asal memotret, sekarang cobalah untuk melihat pengaturan-pengaturan yang disediakan nokia ber-OS symbian seri s60v3 atau v5. Saya akan memberikan screenshot-screenshot dan pengaturan-pengaturan yang ada pada ponsel N79 (karena itu ponsel saya :D).

Nah, ini adalah tampilan awal ketika kita membuka kamera (toolbar saya sesuaikan sendiri). Ada kamera nokia yang memunculkan semua toolbar (tidak bisa diatur sesuai keinginan), dan ada juga yang bisa di atur sesuai keinginan kita (bisa dimunculkan dan tidak), seperti n79 saya ini :D. Bila ponsel anda sama seperti milik saya ini dan toolbar yang ada di sebelah kanan sedikit, anda bisa mengubahnya melalui cara berikut ini ::

Options -> Customise toolbar
 Maka akan muncul tampilan seperti ini ...
 Nah, disinlah tempat untuk menambah dan menghapus toolbar-toolbar sesuai keinginan anda. Gampang saja, bila anda mau menambahkan toolbar, klik "Add Shortcut".
Untuk menghapusnya, anda klik tombol "c" atau clear pada ponsel nokia anda.
Untuk memindah letak toolbar, arahkan kursor anda ke toolbar yang ingin dipindah, lalu klik tombol Options --> Move up/down.

Sekarang, saya akan menjelaskan satu per satu guna toolbar-toolbar yang disediakan oleh nokia ::
1. Video mode/Image mode : Untuk mengganti modus foto atau modus video
2. Scene modes : Untuk memilih modus-modus kamera yang tepat sesuai dengan pemandangan sekitar.

a. Auto : Semua diatur auto oleh kamerab. User Defined : Pengaturan ini digunakan untuk menyimpan pengaturan kamera sesuai keinginan kita
Based on scene mode : Berdasarkan dari modus pemandangan apa? Jadi, pengaturan awal yang berasal dari modus apa? Misalnya : Modus Auto, Night, Sports, Night, dan sebagainya.
c. Close-up : Modus ini digunakan untuk membidik pada jarak dekat. Gunakan modus ini untuk hasil yang lebih jelas pada saat anda membidik sesuatu yang jaraknya dekat dari kamera (10 cm atau lebih)d. Potrait : Modus ini dikhususkan untuk memotret seseorang (setengah badan).e. Landscape : Modus ini baik untuk memotret pemandangan. Tetapi menurut saya, saya kurang suka dengan pengaturan ini, karena ketajaman gambar ditingkatkan dan itu akan membuat gambar terlalu tajam)f. Sports : Modus ini dikhususkan untuk menangkap gambar yang bergerak cepat.Penangkapan gambar ditingkatkan, kualitas gambar diturunkan.
g. Night : Modus ini digunakan pada ruangan yang cahayanya kurang. Modus ini adalah kebalikan dari modus "Sports". Penangkapan gambar diturunkan, kualitas gambar ditingkatkan.
h. Night Potrait : Modus ini merupakan gabungan dari dua modus, yaitu : modus Potraitdan Night.

3. Flash : Memungkinkan flash akan diatur otomatis, on, off, atau red-eye sesuai keinginan anda
  
4. White Balance : Untuk menentukan keseimbangan cahaya yang benar agar gambar terlihat lebih hidup (Misalnya : Pada kondisi outdoor yang cerah, lebih baik gunakan White Balance Cloudy atau Sunny. Untuk indoor biasanya Flourescent atau Incandescent. Tetapi disarankan saja pengaturan ini diatur Auto saja.) [Baca selengkapnya tentang White Balance...]  

5. Exposure Compensation : Pengaturan ini digunakan untuk menerangkan atau menggelapkan gambar. Misalnya : Menurut anda, gambar yang ada di tampilan gelap, anda dapat menerangkannya dengan pengaturan ini. Tetapi sebaiknya jangan terlalu tinggi/rendah, karena pengaturan ini sangat mempengaruhi kualitas foto.

6. ISO Sensitivity : Pengaturan ini penting untuk mengatur kepekaan cahaya yang benar untuk kondisi pencahayaan saat itu. Auto : Kamera akan menentukan ISO secara otomatis. Low : Pilih pengaturan ini untuk kondisi cahaya yang terang.Medium : Pilih pengaturan ini untuk kondisi cahaya yang agak kurang terang / kondisi dalam ruangan dan menggunakan Flash. High : Pilih pengaturan ini dalam cahaya yang kurang terang dan untuk menangkap gambar pada kondisi cahaya yang terang. [Baca selengkapnya tentang pengertian ISO...]

7. Self-timer : Digunakan untuk memberi timer sebelum mengambil gambar.
8. Sequence mode : Pengaturan ini digunakan untuk mengambil beberapa gambar dalam waktu yang berbeda-beda. Misalnya : Saya memilih sequence mode pada 10 detik, kamera akan memotret tiap 10 detik sampai memori habis.


9. Sharpness : Digunakan untuk mengubah ketajaman gambar.

10. Colour tone : Pengaturan ini berisi efek-efek yang mengubah warna.

11. Go to photos/gallery : Untuk menuju galeri foto/video


Sekian.
Semoga dengan adanya artikel ini, anda lebih mengerti tentang pengaturan-pengaturan kamera pada ponsel nokia anda =)

sumber : j4sharing.blogspot.com